|
Pernahkan anda membaca sebuah buku, publikasi, poster, brosur atau media desain yang lain, lalu anda menjadi pusing?
Bisa jadi karena desain publikasi tersebut tidak memperhatikan masalah hirarki. Semua informasi ingin disampaikan kepada pembaca. Biasanya hal ini terlihat pada penggunaan font yang besar-besar, bold tapi sayangnya sama besar. Sehingga kita menjadi bingung, mana informasi yang ditonjolkan.
Tantangan Desainer
Tantangan para desainer grafis adalah membuat desain yang dibuatnya menjadi se-komunikatif mungkin. Pembaca harus di ajak melihat pertama kali pada informasi terpenting, lalu yang terpenting kedua, ketiga dan seterusnya. Para desainer harus mempunyai persepsi bahwa para pembaca memiliki keterbatasan dalam perhatian dan tidak punya banyak waktu.
Oleh karena itu, sebelum melangkah pada pembuatan desain, ada baiknya desainer memahami dulu content yang akan dibuatnya. Agar urutan pembacaan desain oleh pembaca menjadi tepat dan sesuai sasaran. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Desain Gitu Aja Kok Mahal |
|
Seorang calon klien pernah menyatakan kekagetannya ketika melihat angka yang saya tawarkan untuk membuat sebuah brosur. Dia lalu memperlihatkan sebuah brosur yang di desain oleh temannya yang harganya “hanya” seperdelapan dari harga yang saya tawarkan. Tetapi setelah saya lihat baik-baik memang ada banyak sekali kekurangan dalam brosur tersebut. Mulai dari pemakaian efek yang berlebihan, penggunaan ilustrasi yang tidak tepat, sampai pemilihan warna “yang saling membunuh”. Coba anda bayangkan tulisan dengan text banyak, warna font-nya hitam pada background biru agak gelap. Bikin pusing saja waktu membacanya. Desain tersebut sangat tidak cocok dengan sasaran customer perusahaan tersebut yang membidik kalangan menegah atas.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Membuat kartu nama adalah perkara yang “sederhana”. Kita cukup mencantumkan logo, nama, alamat perusahaan dan nama si karyawan beserta posisinya di kartu nama tersebut. Namun disadari atau tidak, benda “sesederhana” tersebut ternyata mencerminkan citra dari perusahaan tersebut.
Seorang CEO sebuah perusahaan piranti pendidikan pernah menyatakan ketidakpuasannya kepada saya tentang desain kartu nama perusahaannya. Desain itu dibuat oleh seorang “desainer” yang dikenalnya. Entah kenapa ada yang membuat dia “kurang sreg” dengan desain tersebut. Kesannya kurang elegan menurutnya. Namun secara jujur dia mengatakan belum menemukan “faktor” yang membuatnya tidak elegan. Padahal menurutnya, desain tersebut sudah “menarik” dengan memainkan banyak gambar, warna-warna dan beberapa efek photoshop.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|